Thursday, January 29, 2015

SURAT DARI ADAM

Ukhtifillah,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena itu kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,
tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,
kerananya kau tak mempunyai persamaan.

Ukhtifillah,

Jangan biarkan aku menatapmu penuh,
kerana ianya akan membuatkanku mengingatimu.
Bererti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Mengimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatkanku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Ukhtifillah,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak terhujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan nafsu diri,
berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku
kerana sucimu kau pertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Ukhtifillah,

Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan kerana aku terlalu indah, tapi kerana aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau dimanipulasi.
Kerana kau itu hanya manusia-hanya wanita.

Ukhtifillah,

Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku,
terukir dalam kitab suci,
tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu,
dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu,
karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

Ukhtifillah,

Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu,
mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu bererti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,
yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu.

Ukhtifillah,

Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu,
tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu,
melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih
Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.

No comments:

Post a Comment